Ritual Myths in Traditional Dance Performances of Aceh, Java, Bali, Kalimantan, Sulawesi, and Papua

Authors

  • Gunawan Wiradharma Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta, Indonesia
  • Sri Sediyaningsih Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta, Indonesia
  • Pamela Mikaresti Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Terbuka, Jakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.38035/dijemss.v6i5.4637

Keywords:

Ecology, Monotheism, Myth, Ritual Dance

Abstract

The insertion of myth into ritual events and supernatural powers in a dance performance certainly has a greater purpose. Something sacred and considered to have supernatural powers certainly has a value that cannot be grasped by common sense, so the mysteriousness of myths is still difficult to consider as truth. In general, this research aims to comprehensively examine the myths that develop in dance performance rituals, especially in the lives of the people of Aceh, Java, Bali, Kalimantan, Sulawesi, and Papua. This research method is qualitative research carried out by describing facts. The results of this research show that the background to the emergence of myths in ritual dance in Aceh, Java, Bali, Kalimantan, Sulawesi, and Papua is based on folklore that developed in these areas. Apart from that, it was also found that the main motives for creating myths were monotheism and ecological motifs. The bond and awareness between humans, the universe, and God create a balanced relationship so that a safe, secure, and protected situation is created. In this case, it can be seen that myths are not just reports of events that previously occurred, but myths provide direction to human behavior and are a guide in determining human wisdom.

References

Ambarwati. (2022). Metode Penelitian Kualitatif (Kosep dan Praktis dalam Bidang Pendidikan Agama Islam). Al Qalam Media Lestari.

Anggito, A., & Setiawan., J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. CV Jejak (Jejak Publisher).

Bahrum, S. (2012). Tari Pakarena Sebagai Tanda Budaya Orang Makassar (Sebuah Pendekatan Strukturalisme, Semiotika dan Hipersemiotika).

Cambah, T. M. (2022). Alam Adalah Keluarga: Internalisasi Nilai-Nilai Ekologis Ritual Nhunan Suku Dayak Ngaju. Jurnal Ilmu Lingkungan, 20(2).

Darmawan, I. P. A. (2019). Pemujaan Barong di Bali Dalam Pandangan Animisme Edward Burnett Tylor. Jurnal Sanjiwani, 10(2).

Desfiarni. (2004). Tari Lukah Gilo sebagai Rekaman Budaya Minangkabau Pra Islam: Dari Magis ke Seni Pertunjukan Sekuler. Pustaka Pelajar.

Dewi, T. K. S., Supriyadi, H., & Dasuki, S. (2018). Kearifan Lokal Mitos Pertanian Dewi Sri dalam Naskah Jawa dan Aktualisasinya Sebagai Perekat Kesatuan Bangsa. Manuskripta: Jurnal Manassa, 8(2).

Donder, I. K. (2006). Brahmavidya: Teologi Kasih Semesta Kritik Terhadap Epistemologi Teologi, Klaim Kebenaran, Program Misi, Komparasi Teologi. Paramita.

Elas, E. (2018). Keunikan Cara Adat Bakar Batu dan Noken Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Masyarakat di Papua. Seminar Prosiding: Domestic Case Studi 2018.

Fitri, M. (2015). Bentuk Penyajian Tari Inen Mayak Pukes pada Masyarakat Gayo Aceh Tengah. Gesture: E-Jurnal Seni Tari, 4(2).

Gushevinalti, G., Suminar, P., & Sunaryanto, H., & Gushevinalti, Panji Suminar, H. S. (2020). Transformasi Karakteristik Komunikasi Di Era Konvergensi Media. Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 6(1), 83 – 134.

Hera, T. (2018). Fungsi Tari Persembahan Tepak Sirih Dalam Memeriahkan Acara HBD Indonesia Di BKB Palembang. Jurnal Sitakara, 3(2), 60–68.

Hidajat, R. (2017). Teri Remo & Tari Beskalan Kajian Strukturalisme Model Levi-Strauss. Terob: Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Seni, 7(2).

Howay, L. (2018). Budaya (Kearifan Lokal) Dalam Perang Suku Pada Masyarakat Suku Dani Di Papua. Seminar Prosiding Nasional.

Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.

Lathief, H. (1996). Pakarena: Sebuah Bentuk Tari Tradisional Makassar. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 71.

Lodra, I. N. (2017). Tari Sanghyang: Media Komunikasi Spiritual Manusia Dengan Roh. Jurnal Multikultural Dan Multiregilius, 16(2), 2017.

Martha, R., Fretisari, I., & Ismunandar. (2021). Fungsi Ritual Tari Totok’ng Padi Di Desa Saba’u Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan Dan Pembelaran, 10(11), 1–12.

Maslikatin, T. (2015). Ritual Using and Jawa: Mitos Hibriditas Budaya Sebagai Integritas dan Harmoni Sosial. Jurnal Literasi, 5(2), 187–195.

Matandung, L. D. (2018). Makna Simbolik Tari Pa’Katia Pada Upacara Rambu Solo’ Di Kabupaten Toraja Utara. Universitas Negeri Makassar.

Meko, A. M. L. (2022). Religiusitas Tradisi Hudoq Dayak Bahau dan Krisis Ekologis: Tinjauan Fenomenologi dalam Pandangan Laudato Si. Limen: Jurnal Agama Dan Kebudayaan, 19(1).

Murgiyanto, S. (2018). Membaca Jawa. ISI Press.

Nasrudin, J. (2020). Refleksi Prilaku Keberagamaan dalam Sistem Pengobatan Tradisional Masyarakat Pedesaan?: Penelitian terhadap Eksistensi Sistem Pengobatan Tradisional Masyarakat Perdesaan di Wilayah Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut [UIN Sunan Gunung Djati Bandung]. https://digilib.uinsgd.ac.id/29332/

Nurhayati, D. (2019). Mengenal Tarian dan Seni Papua. Alprin.

Patandean, M., Baka, W. K., & Hermina, S. (2018). Tradisi To Ma’Badong Dalam Upacara Rambu Solo’ Pada Suku Toraja. Lisani: Jurnal Kelisanan Sastra Dan Budaya, 1(2).

Permata, M. M. B. (2020). Nilai Filosofi Gerak Tari Guel pada Masyarakat Gayo di Kota Takengon Kabupaten Aceh Tengah. Gondang: Jurnal Seni Dan Budaya, 4(1), 47–59.

Putrayana, I. P., & Feby., I. G. (2018). Desa Truyan: Masyarakat dan Kebudayaannya. Acarya Pustaka: Jurnal Ilmiah Perpustakaan Dan Informasi, 5(1).

Putri, R., Supadmi, T., & Ramdiani. (2015). Bentuk Penyajian Tari Pho di Gampong Simpang Peut Nagan Raya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, Dan Musik, 1, 117–125.

Restella, R., & Rahma, S. (2013). Karakteristik Tari Rabbani Wahed Pada Masyarakat Aceh Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireun. Gesture: Jurnal Seni Tari, 2(1).

Restian, A. (2017). Pembelajaran Seni Tari Di Indonesia Dan Mancanegara. Universitas Muhammadiyah Malang.

Rosana, E. (2018). Fungsi Tari Hudo dalam Acara Pernikahan Masyarakat Suku Dayak Modang di Long Bleh Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Rumansara, E. H. (2015). Memahami Kebudayaan Lokal Papua: Suatu Pendekatan Pembangunan yang Manusiawi di Tanah Papua. Jurnal Ekologi Birokrasi, 1(1).

Rustiyanti. (2019). Seni Digital Wisata Teknologi Ar Pasua Pa Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Budaya Etnika, 3(2), 197–204.

Saeng, V. (2015). Religi Dayak Mualang Dalam Mitos. In Kearifan Lokal-Pancasila: Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan. Kanisius.

Siswadi, G. A. (2022). Tradisi Ogoh-Ogoh di Bali Dalam Tinjauan Kritis Filsafat Kebudayaan Cornelis Anthonie Van Peursen. Jurnal Genta Hredaya, 6(1), 88–97.

Soedarsono, R. M. (2002). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Gadjah Mada University Press.

Soegiarto, Marah, R., Soebroto, & Supriadi, E. (1999). Monografi Daerah Irian Jaya. Proyek Media Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suharti, M. (2013). Tari Ritual dan Kekuatan Adikodrati. Panggung, 23(4). https://doi.org/10.26742/panggung.v23i4.154

Suharto, B. (1999). Tayub: Pertunjukan dan Ritus Kesuburan. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Suprapta, B. (2019). Makna Lukisan Dinding Gua Daerah Pangkep dalam Kehidupan Mesolitik: Perspektif Semiotika Charles S. Piere. Kanisius.

Suraji, R. (2010). Religiusitas Tari Lengger Desa Gerduren Kecamatan Purwojati Banyumas. Jurnal Media Aplikom, 1(2), 123–139.

Suseno, F. M. (2006). Menalar Tuhan. Kanisius.

Tokan, A. K. H. (2023). Agama Koda. Nilacakra Publishing House.

Utami, M. W. (2013). Tari Sere Wara di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan (Sebuah Kajian Gerak Tari Yang Bersumber dari Ritual. Universitas Negeri Makassar.

Widyastutieningrum. (2012). Pertunjukan Tayub sebagai Sarana Ritual Kesuburan bagi Masyarakat Blora. Seminar Dan Festival Tayub 2012.

Wiradharma, G., Soewardjo, B. K., Sediyaningsih, S., Rachman, A. S., Sopandi, A. T., & Wiradharma dkk., G. (2021). Empat Wajah Topeng Indonesia: Karakteristik Tradisi pada Budaya Jakarta, Cirebon, Malang, dan Bali. Jurnal Sastra Indonesia, 10(3), 198–214.

Wirawan, K. I. (2016). Keberadaan Barong Ket dan Rangda Dalam Dinamika Religious Masyarakat Hindu Bali. Paramita.

Yanti, R. (2019). Meningkatkan Keterampilan Menari Tari Pakarena Anida Dengan Metode Demonstrasi Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 5 Takalar. Universitas Negeri Makassar.

Yassa, S., Hasby, M., & Wahyono, E. (2021). Strategi Pembelajaran Budayan dan Sistem Kepercayaan Masyarakat Bugis, Dari Mitos Ke Logos, dan Fungsional (Suatu Tinjauan Filsafat Budaya C. A. van Peursen. Jurnal Anoma: Pendidikan, Bahasa Dan Sastra, 7(2).

Yumame, E. (2021). Orang Maybrat Papua: Dari Primitif Berjuang Menuju Kehidupan Modern. Deepublish.

Downloads

Published

2025-06-22

How to Cite

Wiradharma, G., Sediyaningsih, S., & Mikaresti, P. (2025). Ritual Myths in Traditional Dance Performances of Aceh, Java, Bali, Kalimantan, Sulawesi, and Papua. Dinasti International Journal of Education Management and Social Science, 6(5), 3824–3835. https://doi.org/10.38035/dijemss.v6i5.4637